Minggu, 16 September 2012

Partikel -kah, -lah, -pun, -tah


Partikel
Bentuk-bentuk kah, tah, lah, pun oleh hampir semua Tatabahasa Indonesia dimasukkan dalam kategori akhiran. Kekeliruan itu terjadi karena pengaruh masalah ejaan, yang oleh ejaan Suwandi dirangkaikan dengan kata sebelumnya. Keempat bentuk itu sebenarnya adalah partikel penentu atau pengeras. Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus yaitu sangat ringkas atau kecil dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu.
Perbedaan antara partikel dan sufiks (juga semua afiks) dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Partikel tidak memindahkan jenis kata ( kelas kata) dari kata-kata yang diikutinya; sebaliknya sufiks (juga semua afiks) memindahkan kelas kata dari kata yang diikutinya.
   Contoh: Pergilah! (pergi  tetap kata kerja) 
               Sudahlah! (sudah tetap kata tugas) 
               Siapakah dia? (siapa tetap kata ganti tanya) 
    tetapi
               Besar – Besarkan! (kata sifat > kata kerja) 
               Cangkul – cangkulkan! (kata tugas > kata kerja) 
               Sudahi pertengkaran itu! (kata kerja > kata tugas) 
2. Bidang gerak partikel adalah sintaksis (termasuk frasa dan klausa); sebaliknya sufiks (juga semua afiks) bergerak dalam bidang morfologi.
Fungsi dan makna partikel-partikel tersebut di atas diperinci sebagai berikut:
1. Partikel kah
Fungsi partikel kah:
a. Memberi tekanan dalam pertanyaan; kata yang dihubungkan dengan kah itu dipentingkan.
    Contoh: Sawah atau ladang kah yang digarapnya? 
b. Dapat dipakai pula untuk menyatakan hal yang tak tentu; sebenarnya hal itu merupakan pertanyaan juga, tetapi pertanyaan yang tidak langsung.
    Contoh: Datangkah atau tidak, kami tak tahu. 
2. Partikel tah
Fungsi patikel tah ini sama dengan kah , tetapi lebih terbatas pemakainnya hanya pada kata tanya saja: apatah, manatah, siapatah. Bentuk-bentuk ini lebih sering dijumpai dalam Melayu Lama. Dewasa ini kurang dipakai.
Makna pertanyaan dengan mempergunakan partikel tah adalah meragukan atau kurang tentu
3. Partikel lah
Fungsi partikel lah adalah:
a. Menegaskan predikat, baik dalam kalimat berita, kalimat perintah, maupun dalam pemintaan atau harapan.
    Contoh: Baca lah dengan nyaring! 
                Datang lah ke sini pukul lima! 
b. Mengeraskan suatu keterangan.
    Contoh: Apa pun yang akan terjadi, pastilah aku akan datang ke sana. 
c. Menekankan subjek; dalam hal ini biasanya ditambah dengan partikel yang.
    Contoh: Kamulah yang harus mengerjakan soal itu. 

4. Partikel pun
Fungsi dan arti partikel pun adalah:
a. Mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan; dalam hal ini dapat diartikan dengan juga.
    Contoh: Dia pun mengetahui persoalan itu. 
b. Dalam penguatan atau pengerasan dapat terkandung arti atau pengertian perlawanan .
   Contoh: Mengorbankan nyawa sekali pun aku rela. 
c. Gabungan antara pun + lah dapat mengandung aspek inkoatif.
   Contoh: Mereka pun berjalanlah.
 
 
1.      Pengertian Partikel
Katagori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas: kah, lah, tah, dan pun.
Pertikel adalah semacam kata tugas yang memiliki bentuk khusus, yaitu sangat ringkas atau kecil, yang mengemban fungsi –fungsi tertentu (Keraf,1991:114). Partikel adalah alat bahasa yang merupakan bagian kalimat yang bersifat afektif (menyatakan perasaan), yang merupakan morfem setengah bebas atau kadang-kadang kata yang berupa morfem terikat (Soekono,1984:151).
1.      Macam–Macam Partikel dalam Bahasa Indonesia
Bentuk partikel dan macam-macam pertikel adalah sebagai berikut :
1.      Partikel kah
Sama halnya dengan partikel lah, partikel kah, dan tah adalah morfem setengah bebas, karena dalam ucapan yang biasa sebagai bentuk lapas tidak berdiri sendiri, tetapi jika telah dilekatkan pada bentuk dasar yang dimukanya, antara partikel kah dan tah dengan bentuk dasar yang ada dilekatinya dapat disisipkan kata lain (Soekono,1984:152).
Contoh : Apakah = apa (pula ,jua,saja) kah
Apatah = (pula, jua, saja) kah
1.      Partikel kah dan tah berfungsi dua macam ,yaitu :
1.      Menegaskan/mementingkan bentuk dasar yang dilekatinya. Karena itu kedua partikel tersebut dinamai partikel penegas/partikel pementing.
2.      Membentuk kalimat tanya. Karena itu pulalah maka kedua partikel tersebut dinamai partikel tanya.
1.      Partikel kah dan tah di samping mempunyai persamaan, yakni keduanya membentuk kalimat tanya, namun keduanya mempunyai sifat khusus sehingga tampak perbedaan dalam pemakaiannya yakni: partikel kah membentuk kalimat tanya yang memerlukan jawaban, sedangkan partikel tah membentuk kalimat yang tidak memerlukan jawaban.
Contoh :
Luluskah dia dalam ujiannya?
Initah yang kaunamai bekerja?
c. Partikel kah yang berbentuk klitika dan bersifat manasuka dapat menegaskan kalimat introgatif. Berikut ini adalah kaidah pemakaiannya:
1.      Jika dipakai dalam kalimat deklaratif, kah mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat introgatif.
Contoh :
§  Hari inikah pekarjaan itu harus selesai?
§  Diakah yang akan datang?
1.      Jika dalam kalimat introgatif sudah ada kata tanya seperti, apa, di mana, dan bagaimana, maka kah bersifat manasuka. Pemakaian kah menjadikan kalimatnya lebih formal dan sedikit lebih halus.
Contoh :
§  Apa ayahmu sudah datang?
§  Apakah ayahmu sudah datang?
§  Bagaimana penyelesaian soal ini jadinya?
§  Bagaimanakah penyelesaian soal ini terjadi?
§  Ke mana anak-anak pergi?
§  Ke manakah anak-anak pergi?
1.      Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya tetapi intonasinya adalah introgatif, maka kah akan memperjelas kalimat itu sebagai kalimat introgatif. Kadang-kadang urutannya terbalik.
Contoh :
§  Akan datang dia nanti malam?
§  Akan datangkah dia nanti malam?
§  Harus aku yang mulai dahulu?
§  Haruskah aku yang mulai dahulu?
§  Tidak dapat dia mengurus soal sekecil itu?
§  Tidak dapatkah dia mengurus sola sekecil itu?
d. Fungsi dan makna partikel kah adalah :
1.      Memberi tekanan pada kata yang dirangkaikan dengan kah dalam kalimat tanya .
Contoh :
§  Sawah atau ladangkah yang digarapnya?
§  Bermalas-malas atau berjalankah dia?
§  Siapakah namamu?
1.      Menyatakan hal yang tak tentu, sebenarnya hal itu merupakan pertanyaan juga, hanya pertanyaan langsung.
Contoh :
§  Datangkah atau tidak,kami tidak tahu.
§  Terserahlah padamu, tinggalkah atau berangkat kami tidak ingin mempengaruhi saudara.
Chaer (2000:194) partikel penegas kah dengan fungsi untuk menegaskan digunakan:
1.      Pada akhir kata tanya dalam kalimat tanya.
Contoh :
§  Apakah isi lemari ini?
§  Siapakah namamu yang sebenarnya?
§  Manakah yang kau pilih, yang merah atau yang hijau?
2.      Pada akhir kata atau bagian kalimat yang dinyatakan pada akhir kalimat tanya.
Contoh :
·         Benarkah dia akan datang hari ini?
·         Hasankah yang mengganggumu tadi?
·         Cukupkah uang sebanyak itu?
1.      Partikel tah
Fungsi partikel tah sama dengan kah, tetapi lebih terbatas pemakaiannya hanya pada kata tanya saja: apatah,manatah,siapatah,. Bentuk-bentuk ini lebih sering dijumpai dalam Melayu Lama. Dewasa ini bentuk itu jarang dipakai. Makna gramtikal partikel tah adalah: meragukan sesuatu atau menanyakan sesuatu yang tak tentu (Keraf,199:115).
Partikel tah, yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam kalimat introgatif, tetapi si penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya pada diri sendiri karena keheranan atau kesangsiannya. Partikel tah banyak dipakai dalam sastra lama, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang (Alwi,1998:309).
Contoh :
§  Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?
§  Siapatah gerangan orangnya yang menolongku.
1.      Partikel lah
Partikel lah adalah morfem setengah bebas, karena dalam ucapan yang biasa sebagai bentuk lepas tidak dapat berdiri sendiri, tetapi jika telah dilekatkan pada bentuk yang ada dimukanya, antara partikel lah dan bentuk dasar itu yang dapat disisipkan kata lain (Soekono,1984:152).
Partikel lah dinamai partikel penegas atau pertikel pementing, karena berfungsi menegaskan/mementingkan bentuk dasar yang dilekatinya. Dalam menjalankan fungsi tersebut, umumnya partikel lah dalam kalimat menegaskan predikat, dan kadang-kadang menegaskan subjek.
Contoh : akulah yang bersalah.
Dialah yang dimarai ibu.
Iapun duduklah.
Setelah berbicara pergilah orang itu.
a. Partikel lah, yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam imperatif atau kalimat deklaratif. Berikut adalah kaidah pemakaiannya :
1.      Dalamkalimat imperatif, lah dipakai untuk sedikit menghaluskan nada perintahnya.
Contoh :
§  Pergilah sekarang sebelum hujan turun!
§  Bawalah mobil ini ke bengkel besok pagi!
1.      Dalam kalimat deklaratif, lah di pakai untuk memberikan ketegasan yang sedikit keras.
Contoh:
§  Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.
§  Ambil berapa sajalah yang kamu perlukan.
§  Inilah gerakan pembaruan
§  Dialah yang menggugat soal itu.
1.      Partikel lah yang digunakan di antara subjek dan predikat pada sebuah kalimat verbal atau kalimat ajektiva.
Contoh:
·         Dialah yang mengambil bukumu.
·         Kamilah yang dicurigai.
·         Dialah yang nakal!
Struktur kalimat dengan yang atau lah ini biasanya diikuti oleh anak kalimat penjelas yang diawali oleh kata bukan.
Contoh:
·         Dia yang mengambil bukumu, bukan saya.
·         Dialah yang nakal, bukan anakku.
b. Fungsi dan makna partikel lah sebagai berikut:
1.      Mengeraskan gatra perbuatan baik dalam kalimat berita, kalimat perintah, maupun dalam permintaan atau harapan.
Contoh:
§  Bacalah dengan nyaring.
§  Datanglah ke sini pukul lima.
§  pergilah dia dengan hati yang penuh amarah.
1.      Mengeraskan suatu gatra keterangan
Contoh:
§  Tiadalah aku mau diperlakukan seperti itu.
§  Apa pun yang akan terjadi, pastilah aku akan datang ke sana.
1.      Menekan gatra pangkal, dalam hal ini biasanya ditambah dengan yang.
Contoh:
§  Kamulah yang harus mengerjakan tugas itu.
§  Engkaulah yang bertanggung jawab atas kejadian itu.
Chaer (2000:19) partikel lah digunakan dengan aturan :
1.      Untuk menghaluskan digunakan di belakang kata kerja dalam kalimat perintah.
Contoh :
§  Keluarkanlah buku tulismu!
§  Ambilah mana yang kau sukai!
§  Tenanglah, dan dengarkan pengumuman ini!
2.      Untuk menegaskan digunakan pada kata atau bagian kalimat yang ingin ditegaskan di dalam kalimat berita.
Contoh :
·         Dialah yang mengambil bukumu.
·         Di desa inilah beliau dilahirkan.
Perlu diketahui bahwa diantara satuan-satuan yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan yang biasa, ada yang secara gramatik mempunyai sifat bebas seperti halnya satuan-satuan yang dalam tuturan biasa dapat berdiri sendiri. Satuan-satuan yang dimaksud ialah dari, kepada, sebagai, tentang, meskipun, lah. Sifat bebas dari dan lah misalnya, dapat dilihat dari jajaran-jajaran sebagai berikut :
§  Dari toko
§  Dari suatu toko
§  Dari dua buah toko
§  Dari hampir semua toko
§  Berjalanlah
§  Berjalan cepatlah
§  Berjalan ke utaralah
§  Berjalan ke utara sajalah
Satuan dari kelihatannya terikat pada satuan toko, tetapi dengan adanya frase dari suatu toko, dari dua buah toko, dan dari hampir semua toko, jelaslah bahwa satuan dari secara gramatik dapat dipisahkan dari toko. Demikian pula dengan satuan lah pada berjalanlah. Satuan ini kelihatannya terikat pada berjalan, tetapi dengan adanya frase berjalan cepatlah, berjalan ke utaralah, berjalan keutara sajalah, jelas bahwa lah secara gramatik tidak terikat pada berjalan.
1.      Partikel pun
Partikel pun adalah morfem yang berfungsi menegaskan atau mementingkan kata yang dimukanya. Kerena itu partikel pun dinamai pula partikel penegas atau partikel pementing. Dalam menjalankan fungsi tersebut, partikel pun dalam kalimat umumnya meneggaskan subyek dan kadang-kadang terpakai bersama-sama dengan partikel lah yang meneggaskan predikat ( Soekono,1984:153 ).
Contoh :
Setelah dipanggil, aku pun datang.
Setelah disilahkan, aku pun duduklah.
Pemakaian partikel pun pada umumnya dipisahkan dengan kata yang ada di mukanya, namun menurut bentuknya masih tetap merupakan morfem setengah bebas, karena dalam ucapan yang biasa sebagai bentuk lepas tidak dapat berdiri sendiri.
a. Fungsi dan makna partikel pun adalah sebagai berikut :
1.      Mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan dalam hal ini dapat diartikan dengan juga.
Contoh :
o    Dia pun mengetahui persoalan itu.
o    Kapal-kapal yang besar pun dapat berlayar di sungai itu.
1.      Dalam mengeraskan sesuatu, dapat juga terkandung makna perlawanan.
Contoh :
o    Mengorbankan nyawa sekalipun aku rela.
o    Betapapun ia berjuang mempertahankan hidupnya sia-sia belaka.
1.      Gabungan antara pun + lah dapat mengandung aspek inokatif. Pun di antara subjek dan predikat, sedangkan lah dirangkaikan pada predikat yang berupa kata kerja transitif.
Contoh :
·         Mereka pun berjalanlah.
·         Kami pun berangkatlah segera
·         Hujan pun turunlah dengan lebatnya.
·         Ia pun duduklah di bawah pohon yang rindang itu.
b. Partikel pun hanya dipakai dalam kalimat deklaratif dan dalam bentuk tulisan dipisahkan dari kata di mukanya (Alwi,1998:309). Kaidah pemakaiannya adalah sebagai berikut :
1.      Pun dipakai untuk mengeraskan arti kata yang diiringinya.
Contoh:
§  Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami.
§  Yang tidak perlu pun dibelinya juga.
§  Siapa pun yang tidak setuju pasti akan diawasi.
1.      Dengan arti yang sama seperti di atas, pun sering pula dipakai bersama lah untuk menandakan perbuatan atau proses mulai berlaku atau terjadi.
Contoh:
§  Tidak lama kemudian hujan pun turunlah dengan derasnya.
§  Para demonstran itu pun berbarislah dengan teratur.
§  Para anggota yang menolak pun mulailah berpikir-pikir lagi.
1.      Dalam mengeraskan sesuatu, dapat juga terkandung makna perlawanan.
Contoh:
§  Mengorbankan nyawa sekalipun aku rela.
§  Betapun ia berjuang mempertahankan hidupnya sia-sia.
Ada juga partikel pun yang berupa morfem terikat, sehingga pemakaiannya selalu dilekatkan pada bentuk dasar yang dilekatinya secara keseluruhan telah merupakan bentuk yang leksikologis :
§  Adapun
§  Walaupun
§  Biarpun
§  Meskipun
§  Kalaupun
§  Maupun
§  Kendatipun
Pun pada kata-kata diatas, bukanlah partikel penegas. Pun pada kata-kata tersebut merupakan bagian dari kata-kata tersebut yang secara keseluruhan berfungsi sebagai kata penghubung.
Berdasarkan pendapat Keraf, Alwi, Soekono, dan Chaer dapat disimpulkan bahwa partikel penegas yang ada dalam bahasa Indonesia adalah :
1.      Kah
2.      Tah
3.      Lah
4.      Pun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

borobudur

borobudur